<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Nonton Bareng Laskar Pelangi</title>
	<atom:link href="http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 09:16:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: fitrianh</title>
		<link>http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/#comment-33</link>
		<dc:creator>fitrianh</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 13:37:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fitrianh.blog.friendster.com/?p=105#comment-33</guid>
		<description>Hehehe... Iya deh, Bu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hehehe&#8230; Iya deh, Bu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: niniw</title>
		<link>http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/#comment-32</link>
		<dc:creator>niniw</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 12:44:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fitrianh.blog.friendster.com/?p=105#comment-32</guid>
		<description>hehe.. mangkanya.... nonton aja, nggak usah mikirin buku.... ;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hehe.. mangkanya&#8230;. nonton aja, nggak usah mikirin buku&#8230;. <img src='http://fitrianh.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fitrianh</title>
		<link>http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/#comment-31</link>
		<dc:creator>fitrianh</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 07:47:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fitrianh.blog.friendster.com/?p=105#comment-31</guid>
		<description>Akhirnya sempet juga kau menontonnya, Gung. Hehehe. 

Yaa.. rata2 seperti itu lah film yang diadaptasi dari novel, detail cerita banyak yang dihilangkan, tapi di film ini kupikir tidak terlalu mengganggu inti ceritanya. Yang agak membuat aku bertanya-tanya adalah kenang-kenangan nya Aling, karena kaitannya dengan judul buku ketiga dari Andrea Hirata. Apakah karena tidak menemukan buku yang dimaksud dalam novel, sehingga diganti dengan kotak/kaleng bergambar menara Eiffel. Yang menurutku kurang greget justru kejeniusannya Lintang, dan yang lebih greget kreativitas si Mahar. Sehingga ketika Lintang putus sekolah, di novel sangat terasa sekali 'haru birunya' ketidakrelaan kejadian itu. Mungkin di film rasa kecewa itu diganti dengan harapan bahwa cita-cita Lintang akan dilanjutkan oleh putrinya. Nah disinilah diganti jalan ceritanya, karena nasib Lintang sesungguhnya masih membujang. Mungkin itulah pesan yang hendak disampaikan dalam film. Dan film tidak harus sama dengan novelnya kan.. karena itu dua hal yang berbeda. Ketika membaca pun, masing-masing orang mempunyai persepsi yang berbeda.

Trus untuk pemerannya.. ya mungkin lah.. saat anak-anak badannya kecil, dewasanya jadi tinggi gede. Contohnya aku, HAHAHA.. :))</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya sempet juga kau menontonnya, Gung. Hehehe. </p>
<p>Yaa.. rata2 seperti itu lah film yang diadaptasi dari novel, detail cerita banyak yang dihilangkan, tapi di film ini kupikir tidak terlalu mengganggu inti ceritanya. Yang agak membuat aku bertanya-tanya adalah kenang-kenangan nya Aling, karena kaitannya dengan judul buku ketiga dari Andrea Hirata. Apakah karena tidak menemukan buku yang dimaksud dalam novel, sehingga diganti dengan kotak/kaleng bergambar menara Eiffel. Yang menurutku kurang greget justru kejeniusannya Lintang, dan yang lebih greget kreativitas si Mahar. Sehingga ketika Lintang putus sekolah, di novel sangat terasa sekali &#8216;haru birunya&#8217; ketidakrelaan kejadian itu. Mungkin di film rasa kecewa itu diganti dengan harapan bahwa cita-cita Lintang akan dilanjutkan oleh putrinya. Nah disinilah diganti jalan ceritanya, karena nasib Lintang sesungguhnya masih membujang. Mungkin itulah pesan yang hendak disampaikan dalam film. Dan film tidak harus sama dengan novelnya kan.. karena itu dua hal yang berbeda. Ketika membaca pun, masing-masing orang mempunyai persepsi yang berbeda.</p>
<p>Trus untuk pemerannya.. ya mungkin lah.. saat anak-anak badannya kecil, dewasanya jadi tinggi gede. Contohnya aku, HAHAHA.. :))</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agung</title>
		<link>http://fitrianh.blog.friendster.com/2008/10/nonton-bareng-laskar-pelangi/#comment-29</link>
		<dc:creator>Agung</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 05:09:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fitrianh.blog.friendster.com/?p=105#comment-29</guid>
		<description>Aku baru nonton semalam Fit, bareng istriku. Apa mungkin karena ini film semi dokumenter/biografi ya, menurutku cerita filmnya datar2 aja. Misal aku blum baca novelnya, rasanya aku bakal mikir mau dibawa kemana cerita film ini; karena ngga ada konflik seru yang dibangun. Ngga ada hal yang bikin kita penasaran untuk terus mau ngikuti ceritanya. Kalo di novelnya kan banyak... Misal
- Proses jatuh cinta Ikal ke A Ling
- Pencarian Flo
- Bertamu ke Tuk Bayan Tula
Di film, kejadian2 tadi cuma sekilas2 aja. Jadi kurang ada gregetnya.

Yang istimewa dari filmnya sih karena temanya ga pasaran. Trus gambar2 filmnya bagus.

O iya, ada 1 hal yang mengganggu sekali. Ketidakcocokan pemeran Lintang cilik dan dewasa. Lintang kecil perasaanku idungnya pesek &#38; wajahnya khas Indonesia. Setelah gede koq jadi mancung dan tipe wajah timur tengah? Trus ingatku Lintang itu badannya kecil. Lha pas dewasa koq jadi tinggi gedhe? Waktu blum disebutkan, semula aku kira dia Borek (Samson) :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aku baru nonton semalam Fit, bareng istriku. Apa mungkin karena ini film semi dokumenter/biografi ya, menurutku cerita filmnya datar2 aja. Misal aku blum baca novelnya, rasanya aku bakal mikir mau dibawa kemana cerita film ini; karena ngga ada konflik seru yang dibangun. Ngga ada hal yang bikin kita penasaran untuk terus mau ngikuti ceritanya. Kalo di novelnya kan banyak&#8230; Misal<br />
- Proses jatuh cinta Ikal ke A Ling<br />
- Pencarian Flo<br />
- Bertamu ke Tuk Bayan Tula<br />
Di film, kejadian2 tadi cuma sekilas2 aja. Jadi kurang ada gregetnya.</p>
<p>Yang istimewa dari filmnya sih karena temanya ga pasaran. Trus gambar2 filmnya bagus.</p>
<p>O iya, ada 1 hal yang mengganggu sekali. Ketidakcocokan pemeran Lintang cilik dan dewasa. Lintang kecil perasaanku idungnya pesek &amp; wajahnya khas Indonesia. Setelah gede koq jadi mancung dan tipe wajah timur tengah? Trus ingatku Lintang itu badannya kecil. Lha pas dewasa koq jadi tinggi gedhe? Waktu blum disebutkan, semula aku kira dia Borek (Samson) <img src='http://fitrianh.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
