Rabu, 8 Oktober 2008, hari terakhir libur lebaran bagi adik-adik dan juga merupakan hari nonton bareng film Laskar Pelangi. Ini dah program motivasi yang aku rencanakan buat adik-adik, setelah dengar kabar kalau Laskar Pelangi bakal difilmkan. Seperti yang diungkapkan Andrea Hirata saat Kick Andy Offair di Surabaya beberapa waktu sebelumnya, difilmkannya Laskar Pelangi membawa harapan agar inspirasi Laskar Pelangi bisa diakses lebih luas oleh masyarakat, karena media film lebih banyak diakses daripada novel. Tau kan minat baca masyarakat Indonesia. Jadi semangat deh ngajakin adik-adik untuk nonton film ini.
Kemudian adik-adik kuberitau program ini lewat sms, 2 hari sebelum lebaran sih. “Mbak Fitri nawarin nonton gratis Laskar Pelangi. Mau? ” responnya antusias banget “Beneran tah, Mbak? Mau2, ada apa ini? Bagi2 angpao yaa”.. hehehe
.. “Lho mbak, aq dah nonton! M.Fitri g bilang dari kemarin2″ .. wah maaf deh, telat ya bilangnya. Ternyata hari H ada beberapa yang ga bisa, ya gpp lah, harapan sih tetep diusahakan liat ya. Coz it`s a must see movie!
Kami berlima nonton di Cito, yang paling terjangkau lokasinya dari rumah kami, wah.. tidak menyangka sebegitu antre nya. Padahal saya upayakan datang jam10. Mal nya sih dah buka, tapi bioskopnya belum buka. Jadilah antre di depan pintu bioskop. Wuih koyok antre BLT pokok`e, begitu pintu dibuka pake acara dorong-dorongan dan terjatuh segala.. demi… dapet tiket LASKAR PELANGI! Beruntung dapet tiket show yang pertama, walo dapet kursi no 3 dari depan.
Tentang film nya… IT`S SO BEAUTIFUL !!! SO NATURAL !!! INDONESIA BANGEDDDSSS !!! Riri Riza dan Mira Lesmana memang sineas hesbatz. Kekhawatiran bila film adaptasi novel tidak sebagus novelnya, ternyata sirna. Walau ada beberapa bagian novel yang tidak diceritakan dan diubah, tapi inti, semangat, dan inspirasi novel dapat disampaikan dengan jelas. Karakter anak-anak Laskar Pelangi yang harus diperankan anak-anak asli Belitong adalah keputusan yang sangat tepat, karena mereka berakting sangat natural. Kelucuan dan kepolosan mereka sebagai anak-anak membuat penonton tertawa terbahak-bahak, sama seperti kelucuan rangkaian kata-kata Andrea Hirata di novelnya yang membuat pembacanya tertawa sendiri tanpa peduli pandangan heran oleh orang yang melihatnya. Juga lokasi yang diambil di pulang Belitong, sungguh menawarkan keindahan alam pulau tersebut, melebihi imaginasi saat membaca deskripsi Andrea di novel.
Dan akhir dari film yang membawa keharuan, membawa pesan yang sangat dalam, bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Diiringi lagu dari Nidji, penonton mulai meninggalkan kursi yang diduduki selama 2 jam itu. Berikut adalah lirik dari OST Laskar Pelangi by Nidji :
mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
menarilah dan terus tertawa
walau dunia takseindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
Entries (RSS)
Aku baru nonton semalam Fit, bareng istriku. Apa mungkin karena ini film semi dokumenter/biografi ya, menurutku cerita filmnya datar2 aja. Misal aku blum baca novelnya, rasanya aku bakal mikir mau dibawa kemana cerita film ini; karena ngga ada konflik seru yang dibangun. Ngga ada hal yang bikin kita penasaran untuk terus mau ngikuti ceritanya. Kalo di novelnya kan banyak… Misal
- Proses jatuh cinta Ikal ke A Ling
- Pencarian Flo
- Bertamu ke Tuk Bayan Tula
Di film, kejadian2 tadi cuma sekilas2 aja. Jadi kurang ada gregetnya.
Yang istimewa dari filmnya sih karena temanya ga pasaran. Trus gambar2 filmnya bagus.
O iya, ada 1 hal yang mengganggu sekali. Ketidakcocokan pemeran Lintang cilik dan dewasa. Lintang kecil perasaanku idungnya pesek & wajahnya khas Indonesia. Setelah gede koq jadi mancung dan tipe wajah timur tengah? Trus ingatku Lintang itu badannya kecil. Lha pas dewasa koq jadi tinggi gedhe? Waktu blum disebutkan, semula aku kira dia Borek (Samson)
Akhirnya sempet juga kau menontonnya, Gung. Hehehe.
Yaa.. rata2 seperti itu lah film yang diadaptasi dari novel, detail cerita banyak yang dihilangkan, tapi di film ini kupikir tidak terlalu mengganggu inti ceritanya. Yang agak membuat aku bertanya-tanya adalah kenang-kenangan nya Aling, karena kaitannya dengan judul buku ketiga dari Andrea Hirata. Apakah karena tidak menemukan buku yang dimaksud dalam novel, sehingga diganti dengan kotak/kaleng bergambar menara Eiffel. Yang menurutku kurang greget justru kejeniusannya Lintang, dan yang lebih greget kreativitas si Mahar. Sehingga ketika Lintang putus sekolah, di novel sangat terasa sekali ‘haru birunya’ ketidakrelaan kejadian itu. Mungkin di film rasa kecewa itu diganti dengan harapan bahwa cita-cita Lintang akan dilanjutkan oleh putrinya. Nah disinilah diganti jalan ceritanya, karena nasib Lintang sesungguhnya masih membujang. Mungkin itulah pesan yang hendak disampaikan dalam film. Dan film tidak harus sama dengan novelnya kan.. karena itu dua hal yang berbeda. Ketika membaca pun, masing-masing orang mempunyai persepsi yang berbeda.
Trus untuk pemerannya.. ya mungkin lah.. saat anak-anak badannya kecil, dewasanya jadi tinggi gede. Contohnya aku, HAHAHA.. :))
hehe.. mangkanya…. nonton aja, nggak usah mikirin buku….
Hehehe… Iya deh, Bu.