Sudah dua minggu kelulusan murid2 SMU di Indonesia diumumkan. Alhamdulillah, adik-adik bimbinganku lulus semua. Tahun ini, sekitar 92,5% siswa SMU dinyatakan lulus (www.depdiknas.go.id). Berarti kenaikan 12% dari tahun sebelumnya.Tetapi tahun ini, berita kelulusan sepertinya menyisakan kepedihan mendalam pada murid-murid yang tidak lulus. Karena mereka tidak diberi kesempatan ujian perbaikan. Opsi yang bisa mereka ambil adalah mengikuti ujian kejar Paket C, atau mengikuti UNAS tahun depan.

Yang mengejutkan, diantara mereka yang tidak lulus, terdapat siswa-siswa yang berprestasi. Yang selama ini juara kelas, bahkan juara olimpiade matematika, dinyatakan tidak lulus, karena nilai salah satu pelajaran yang diujikan di UNAS (banyak kasus pada nilai matematika) tidak memenuhi standar minimal yang ditetapkan oleh Depdiknas. Standar nilai minimal untuk tiap pelajaran (B.Ind, B.Inggris, Mat) adalah 4,26. Dan standar minimal NUN rata2 adalah 4,51. Bila nilai berada dibawah standar yang telah ditetapkan tersebut, maka siswa SMU dinyatakan tidak lulus.

Kritikan banyak bermunculan, mengapa kelulusan SMU hanya ditentukan NUN (Nilai Ujian Nasional), dan hanya dengan 3 mata pelajaran tadi? Dengan adanya standar ini, sepertinya memunculkan ketakutan tersendiri pada siswa SMU bila tidak lulus. Pun pihak sekolah, yang harus menahan malu bila banyak siswanya yang tidak lulus. Maka berbagai cara ditempuh agar siswa2 dapat lulus UNAS. Ada yang mengintensifkan belajarnya dengan mengambil les-les tambahan, tapi ada juga yang mengambil jalan pintas, seperti yang pernah saya tulis dalam salah satu posting di blog ini.

Kemarin ada teman2 yang silaturrahim ke rumah, kelulusan UNAS sempat menjadi bahasan juga. Mengapa mereka ketakutan akan standar nilai seperti itu? Dulu kami bahkan lebih berat menjalani ujian (namanya masih EBTANAS), karena 7 mata pelajaran yang diujikan. Dengan materi2 yang lebih momok lagi, seperti Fisika, Kimia, Biologi. Tidak harus contoan, tapi bisa lulus juga. Memang tidak ada standar minimal (atau tidak tau yaa), tapi nilai juga tidak sampai jeblok ke 4.

Saat nonton berita di TV, kasihan juga melihat siswa yang tidak lulus unas, hanya karena nilai matematika nya 4, sedangkan nilai B.Ind dan B.Inggrisnya 8. Padahal sudah diterima di salah satu univ negeri lewat jalur PMDK Prestasi. Bapak Menteri pun berkomentar bahwa univ tersebut harus mengevaluasi sistem PMDKnya. Bapak Menteri beralasan ingin meningkatkan kualitas siswa, dengan meningkatkan standar UNAS. Kenyataan di lapangan, justru meningkatkan praktek2 kecurangan.

Dua hari sebelum kelulusan UNAS, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang guru di salah satu SMK di Surabaya. Dia mengatakan bahwa ada satu murid di sekolahnya yang tidak lulus.
"Kenapa kok sampai ga lulus, Mas?"
"Dia terlalu jujur sih.. ga mau contekan. Anaknya pendiem sekali"
WEKZ *Gubrakz*
Harga sebuah kejujuran, dibayar dengan ketidaklulusan, untuk pelajaran yang mungkin sangat kecil pada aplikasi pekerjaannya (siswa SMK, setelah lulus, sasarannya pasti bekerja).

Pendidikan di Indonesia selama ini menganggap anak yang pintar matematika adalah anak cerdas, sehingga tidak memperhatikan kelebihan2 bidang lain. Sehingga orang tua kebingungan bila anaknya mendapat nilai rendah dalam matematika dan mulai mencarikan kursus matematika untuk anaknya. Mungkin saya termasuk beruntung, mempunyai modalitas belajar Visual yang familiar dengan angka2. Sehingga saat pendidikan dasar dan menengah, belajar matematika hampir tidak menemui kesulitan. Saya tidak membayangkan bila standar ujian nasional adalah bidang musik atau olah raga. Pasti saya akan TIDAK LULUS!

Leave a Reply