Archive for June, 2006

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/13/keluarga/1610987.htm

Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku

MENDAPATKAN pendidikan yang baik untuk anak adalah keinginan setiap orangtua. Bermacam-macam jenis sekolah tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan beragam nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya.

Ada yang memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar kelas, menggunakan gedung bertingkat dengan ruangan ber-AC, hingga sekolah yang mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan kurikulum berbasis kompetensi dari Departemen Pendidikan Nasional.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak bisa memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat, pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan.

Namun, semua kritik itu seperti angin, berlalu begitu saja. Tidak ada perubahan berarti. Sebagian orangtua lalu mencari alternatif pendidikan. Salah satunya dengan bersekolah di rumah (homeschooling).

"Saya termasuk orangtua yang tidak puas dengan sistem pendidikan kita. Sudah berapa banyak sekolah yang saya datangi, hingga yang internasional, ternyata tidak memuaskan juga. Akhirnya saya putuskan untuk mengajar sendiri anak-anak saya," kata Wanti Wowor (39), ibu empat anak.

Wanti memiliki banyak alasan memutuskan mengeluarkan anak-anak dari sekolah umum. Pertama, dia merasa sistem pendidikan di sekolah hanya mengejar nilai rapor. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat, bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak (atau orangtua) mencontek dan membeli ijazah palsu.

"Anak pertama saya, Fini, memerlukan waktu sedikit lebih lama dibandingkan Fina, adiknya, untuk memahami sebuah persoalan. Hal ini bukan berarti Fini tidak pandai, tetapi dia memerlukan waktu atau cara lain untuk mengerti hal baru. Ini yang sering tidak dipahami guru. Guru tidak sempat memberi perhatian kepada murid satu per satu karena yang jadi tanggung jawabnya banyak sekali," ungkap Wanti menjelaskan.

Kedua, dalam hal pergaulan banyak murid yang mencari identitas dari teman, bukan pada diri sendiri. "Banyak murid yang terjebak, dia harus mempunyai barang yang sama dengan temannya agar diterima pergaulan, atau biar dibilang keren oleh teman. Ini kan tidak benar. Identitas kok ditentukan teman, bukan diri sendiri. Ini baru barang, bagaimana dengan narkoba," ujar Wanti.

Dia juga melihat orang belajar karena kebiasaan masyarakat, bukan keinginan atau kesadaran dari diri. Misalnya, sehabis SD harus dilanjutkan SMP, lalu SMA, terus kuliah. Banyak orangtua yang sudah menyadari kelebihan anaknya, namun anak tetap harus menempuh semua jenjang pendidikan formal. Sedangkan eksplorasi pada kelebihan anak agak diabaikan karena memandang pendidikan formal lebih penting. Akibatnya, anak tidak merasa senang bersekolah karena dia tidak tahu tujuan belajar di sekolah.

Joseph Tjoandi (46), ayah empat anak yang juga menyekolahkan anaknya di rumah, merasa prihatin ketika melihat anaknya setiap hari pulang membawa kertas ulangan. "Anak saya belajar terus karena akan ulangan. Belajar itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan beban karena besok ulangan. Anak saya tampak tertekan karena setiap hari ulangan bisa lebih dari dua, masih ditambah PR seabrek-abrek. Hidup seperti tidak menyenangkan bagi dia," kata Joseph yang semula sempat ragu karena memiliki empat anak dan si bungsu masih bayi.

Sempat juga terpikir oleh Wanti mengirim anaknya bersekolah di luar negeri. Namun, dia khawatir jika anak berusia dini dikirim ke luar negeri, jati dirinya sebagai orang Indonesia tidak tumbuh. Dia tidak akan mengenal dan bisa jadi tak mau kembali ke Indonesia.

Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

"Bersekolah di rumah banyak dilakukan di AS (Amerika Serikat). Di sana juga sudah tersedia kurikulum untuk itu. Kebetulan saya mempunyai banyak teman di AS yang membantu mengirimkan silabus dan buku-bukunya," kata Wanti yang mengaku gemar mengajar.

Walau banyak tahu tentang bersekolah di rumah, Wanti perlu dua tahun untuk mempersiapkan diri. Dia juga harus siap menghadapi keluarga yang tentu menentangnya. "Saya sampai dikatakan gila oleh suami saya. Katanya, saya mempertaruhkan masa depan anak-anak," kenang Wanti.

Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil keputusan. "Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah," kata Helen yang mulai mulai mengajar anak di rumah tahun 2000.

Bukan hal mudah bagi Helen ketika mengajak anaknya bersekolah di rumah. Putra pertamanya, Joey Ongko (14), menolak keluar dari sekolah karena dia takut kehilangan teman-temannya. Helen harus menjawab tiga pertanyaan yang dikeluarkan Joey agar dia mau bergabung.

"Pertanyaannya adalah bagaimana Mama bisa tahan mengajar kami kalau selama ini baru belajar dua jam saja Mama sudah marah-marah. Kedua, jika Mama-Papa mengajar kami, siapa yang mencari uang? Ketiga, kalau ada apa-apa dengan Mama-Papa, siapa yang akan mengajar kami?" tutur Helen menirukan pertanyaan anaknya.

"Pertanyaan yang sulit. Saya sampai minta ditunda satu hari untuk menjawab itu. Lalu, saya katakan padanya, justru dengan bersekolah di rumah Mama mempersiapkan kamu dan adik-adik untuk mandiri. Jika suatu ketika Mama-Papa tidak ada, kalian sudah tahu apa yang harus dikerjakan, lebih mandiri. Mendengar jawaban itu, dia menerima. Setelah mengajar sendiri di rumah, ternyata saya jadi lebih sabar," ungkap Helen.

PERTAMA kali menjalani bersekolah di rumah, Helen tidak merasa kesulitan. Dia ajak ketiga anaknya membaca biografi Abraham Lincoln, lalu mereka berdiskusi dengan topik mengapa Abraham Lincoln bisa menjadi orang hebat. "Dari sana mereka lihat, untuk menjadi orang hebat dia harus menjadi orang yang jujur dan turun ke bawah membela kepentingan orang lain. Selesai satu buku, kami membaca buku yang lain," cerita Helen yang bekerja sebagai pengacara.

Untuk pelajaran matematika, semula anak-anaknya tidak tertarik. Helen mencari akal dengan bermain perang-perangan yang memang disukai anaknya. Dalam perang, untuk bisa menang jumlah tentaranya harus banyak. Kalau bisa, lebih banyak dari musuh. Untuk tahu apakah tentaranya sudah banyak atau belum, dia mesti menghitung. Dari permainan ini anak-anaknya bisa mengerti tujuan belajar matematika.

Wanti, karena telah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada di AS, mempunyai materi yang siap pakai. Dia datangkan kurikulum dan buku-buku dari AS yang memang ditujukan untuk belajar mandiri di rumah. Kemudian, dia ubah sebuah kamar menjadi ruang kelas.

"Saya duduk di tengah, lalu dua anak di samping kiri, dan dua anak lagi di samping kanan. Buku-buku yang menunjang pelajaran saya letakkan di rak dinding. Buku-buku itu dipakai untuk membedah sebuah masalah, lalu kami diskusikan bersama. Mereka juga bisa membuka internet untuk mencari bahan yang diperlukan," kata Wanti.

Pelajaran yang diberikan adalah matematika, bahasa Inggris, sejarah dunia, sains, dan budi pekerti. Untuk matematika dan bahasa Inggris, Wanti mengajar anak satu per satu. Sedangkan untuk pelajaran lainnya digabungkan bersama. "Saya ambil maksimum. Untuk anak bungsu, saya biarkan sampai seberapa jauh dia bisa menangkap," kata Wanti yang menetapkan pukul 08.00 sampai 12.00 merupakan jam sekolah. Di luar jam itu, anak bebas mau melakukan apa saja. Mereka bisa ikut berbagai kursus, di mana mereka bisa bertemu teman sebaya.

Namun, tetap saja sebagian besar waktu dihabiskan bersama anggota keluarga. "Walaupun belajar, kami sangat santai dan bergembira karena suasananya tanpa tekanan. Hubungan keluarga pun semakin akrab," kata Wanti.

Istri Joseph, Lilies Tjoandi, menambahkan, dengan bersekolah di rumah dia bisa mengetahui kekuatan masing-masing anak. "Setiap anak itu berbeda, kita tidak bisa menyamaratakan mereka seperti yang dilakukan sekolah umum. Dengan terjun sendiri, kita tahu bagaimana mereka sebenarnya," ungkap Lilies.

Dengan bersekolah di rumah, para orangtua juga mempunyai waktu yang fleksibel. Mereka tidak akan pindah ke topik lain jika anak-anak belum menguasai. Setelah anak-anak siap, baru mereka mengajukan diri untuk ujian. Dari pengalaman mengajar di rumah, menurut Wanti, waktu belajar anak justru lebih pendek dibandingkan sekolah umum. "Umur 16 tahun anak-anak saya sudah selesai SMA," ujarnya.

Dalam mengerjakan bahan ujian, menurut Wanti kejujuran orangtua sangat diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau dibantu. "Apakah dia masih mengejar nilai bagus, atau mengajarkan kejujuran pada anak," kata dia menegaskan.

Kertas ujian itu lalu dikirim kembali ke AS untuk dinilai, dan mendapat sertifikat sehingga murid bisa melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar negeri. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program Internasional.

Kedua anak Wanti lainnya, Timothy (15) dan Lea (14), menjalani sistem belajar campuran, separuh di rumah, separuh lagi di Morning Star Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah. Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid.

BERSEKOLAH di rumah memang belum umum di Indonesia. Fini mengaku bosan setiap kali ditanya sekolah di mana. "Ketika saya jawab homeschooling, mereka bingung. Apa tuh? Saya harus menjelaskan terus. Dulu agak terbeban, tetapi sekarang sudah biasa," ujar Fini.

Dia mengaku sangat berterima kasih ibunya mengambil keputusan itu karena Fini merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

"Setidaknya saya selalu mengumpulkan tugas-tugas sebelum waktu yang ditetapkan. Sedangkan teman-teman selalu SKS-sistem kebut semalam-dalam mengerjakan tugas. Mereka juga tidak berani bicara, berdiskusi di kelas. Jangankan itu, bertanya saja mereka tidak berani dan sering menyuruh saya bertanya ke dosen. Buat saya, ini aneh karena saya dididik untuk disiplin dan berani mengemukakan pendapat," kata Fini.

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan, materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya harmonis.

Tetapi, bersekolah di rumah juga memerlukan tanggung jawab dan komitmen tinggi dari orangtua. Sekali terjun, mereka tidak bisa mundur karena sudah merasakan enaknya dekat dengan anak-anak. (Sarie Febriane/m Clara Wresti)

Comments No Comments »

Code yang saya maksud dalam judul ini tidak sama dengan code di posting sebelumnya :)
Kalau code di posting sebelumnya adalah code dalam pemrograman. Tapi dalam posting ini lebih dimaknai sebagai symbol, perumpamaan

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk menonton film Da Vinci Code.Awalnya tertarik karena berita2 yang menyebutkan bahwa film ini diangkat dari novel best seller dengan judul yang sama. Baik novel dan film nya banyak mengundang kontroversial dari kalangan agamawan. Karena belum membaca novelnya, maka saya mencoba mengikuti alur cerita dengan seksama (hehe.. inilah untungnya kalo nonton sendiri, bisa konsen ama cerita) walau ada bagian-bagian yang masih membingungkan untuk dipahami, karena tidak dijelaskan dengan rinci, seperti di novelnya, terutama bagian pemaparan sekte-sekte. Apalagi sewaktu dialog2 yang mungkin dianggap sensitif, wah tidak ada terjemahannya, terpaksa membagi konsentrasi,fungsi visual dan audio, untuk mendengarkan dialog dalam bhs inggris, plus proses penerjemahan sendiri (wah, bagi pembelajar visual seperti saya, agak sulit dalam kondisi spt ini)

Seperti dalam novelnya, film tersebut menceritakan tentang penyelidikan pembunuhan seorang kurator museum Louvre di Prancis. Penyelidikan tersebut menuntun seorang professor simbolog dan seorang agen kriptolog pada pemecahan kode-kode tersembunyi di balik karya-karya Leonardo Da Vinci, hingga sampai pada terkuaknya kebenaran sejarah yang selama berabad-abad dimanipulasi oleh pemegang kekuasaan.

Wah.. ternyata.. kode, symbol bukan hanya untuk perburuan harta karun :)
Tapi digunakan juga sebagai bahasa non verbal untuk menentang hegemoni kekuasaan, membuka kebenaran sejarah. Dan symbol tersebut tertuang dalam karya-karya seni, lukisan, seni rupa, musik, lirik lagu, theater, film, kartun (?) :)
(disebutkan dinovel Da Vinci Code, bahwa kartun little mermaid pun mengandung symbol2).
Symbol dan perumpamaan untuk penentangan terhadap hegemoni kekuasaan juga tertuang dalam bentuk karya-karya sastra, novel, cerpen, puisi. Seperti puisi2 Chairil Anwar.

Pernah di suatu acara di MetroTV, mengupas tentang film Lord of The Ring yang juga diangkat dari novel dengan judul yang sama. Sebelumnya saya menganggap film itu biasa2 saja, hanya special effect nya saja yang memang bagus. Karena saya tidak terlalu suka film fiksi, kecuali science fiction. Jadi nonton di VCD saja, pinjeman lagi. Hingga saya nonton acara tersebut, yang menyebutkan bahwa novel LOTR ditulis pada tahun dimana negara-negara Eropa sedang dalam kondisi PD I. Dibahas dalam acara tersebut bahwa novel LOTR banyak mengandung symbol2 yang menceritakan kondisi dunia saat itu. Karakter2 dalam LOTR adalah merupakan symbol tokoh2, seperti Sauron diidentikkan dengan Hitler, Gandalf dengan Winston Churchill. Mordor dan Isengard adalah symbol negara2 Eropa yang menginvasi negara lain, sehingga pecah PD I.

Ketika bahasa verbal sudah tidak memungkinkan untuk digunakan,
maka bahasa-bahasa non verbal mencoba untuk mengungkapkan kebenaran.

Comments No Comments »

procedure TForm1.FormCreate(Sender: TObject);
begin
SetWindowLong( Handle,GWL_STYLE,
     GetWindowLong( Handle, GWL_STYLE )
     and not WS_CAPTION ) ;
ClientHeight := Height-50;
end;

Comments No Comments »

Kode ini berfungsi untuk menambahkan background pada MDI Form.
Thx to Delphindo@yahoogroups.com
Dalam kode aslinya, background berupa file BMP.
Kode ini dikembangkan untuk background yang berupa *.JPG.
Juga utk menampilkan login form pada running awal aplikasi MDI.

=============================================

Unit Unit1

interface

uses JPEG,ExtCtrls; // Adding Unit For TJPEGImage & TImage

type
   TForm1 = class (TForm)
    MainMenu1: TMainMenu;
    Logout1: TMenuItem;
    procedure FormCreate(Sender: TObject);
    procedure FormActivate(Sender: TObject);
  private
    { Private declarations }
      FirstLoad:boolean;
      FDefProc: Pointer;
      procedure ClientProc( var M: TMessage );
  public
    { Public declarations }

  end;

var
  Form1: TForm1;

implementation

uses UnitLogin;

{$R *.DFM}

procedure TForm1.ClientProc(var M: TMessage);
var jpg: TJPEGImage;
    img: TImage;
Begin
  if (M.Msg = WM_ERASEBKGND) then
  begin
  jpg:=TJPEGImage.Create;
  img:=TImage.Create(nil);
   try
    jpg.LoadFromFile(’..\pic\mPit.jpg’); // load gambar jpg
    img.Height:=jpg.Height;
    img.Width:=jpg.Width;
    img.Picture.Bitmap.Assign(jpg);
    StretchBlt(
        m.WParam,0,0,Width,Height,
        img.canvas.handle,0,0,
        img.Width,
        img.Height,
        SRCCOPY);
    finally
     jpg.free;
     img.free;
    end;
   end
   else
   m.Result := CallwindowProc(FdefProc,ClientHandle,M.Msg,M.wParam,m.lParam);
end;

procedure TForm1.FormCreate(Sender: TObject);
var proc: TFarProc;
begin
  proc := MakeObjectInstance(ClientProc);
  FDefProc := pointer(SetWindowLong(ClientHandle,GWL_WNDPROC,Longint(proc)));
  FirstLoad:=true;
end;

procedure TForm1.FormActivate(Sender: TObject);
begin
If FirstLoad then
   begin
   FormLogin.ShowModal;
   FirstLoad:=false;
   end;
end;

procedure TForm1.Logout1Click(Sender: TObject);
var i:integer;
begin
for I := MDIChildCount-1 downto 0 do MDIChildren[I].Close;
FormLogin.ShowModal;
end;

end.

Comments No Comments »

DONAT

Bahan :
1 kg Terigu
12 gr Ragi instan
400 ml Air
120 gr Gula
10 gr Garam
60 gr Margarin
50 gr Mentega
125 ml SUsu Cair
5 btr Kuning Telur
3 gr Baking Powder
50 gr Susu bubuk full cream

Toping :
100 gr Keju
100 gr Meses
150 gr Chocolate coating

Butter Cream :
175 gr Shortening putih
125 gr Gula
35 gr Susu kental manis
1 sdm Rum

Cara Membuat:

1. Campur semua bahan kering. Masukkan kuning telur, susu cair, sebagian air, dan aduk pelan hingga adonan menyatu
2. Masukkan mentega dan margarin, terus aduk dengan kecepatan dinaikkan hingga adonan kalis.
3. Angkat dari mixer. Istirahatkan sekitar 10 menit.
4. Potong dan timbang sesuai ukuran kurang lebih 70 gr, dan bulatkan
5. Lubangi bagian tengah; istirahatkan sampai mengembang 1 jam. Sementara itu, panaskan minyak goreng.
6. Goreng dengan api sedang selama 2 menit hingga matang.
7. Angkat dan tiriskan.

PANDAN CHIFFON CAKE

Bahan :
160 ml Minyak Sayur
8 btr Kuning telur
240 ml Air
Vanili bubuk secukupnya
400 gr Terigu
400 gr gula pasir
16 gr Baking Powder
5 gr Garam
15 gr Cake Emulsifier
8 btr Putih Telur
1/2 sdt cream of tartar

Cara membuat :

1. Siapkan loyang chiffon, tanpa olesan.
2. Kocok kuning telur dalam mangkuk plastik, tambahkan minyak sayur sedikit demi sedikit hingga adonan kental.
3. Campur air, garam, pandan pasta, 1/3 bagian gula pasir dan vanili aduk rata.
4. Campur terigu dan baking powder.
5. Kocok campuran air, kocokan kuning telur dan campuran terigu beserta cake emulsifier dengan mixer kecepatan tinggi hingga kental
6. Kocok putih telur, cream of tartar dan sisa gula pasir dengan mixer kecepatan tinggi hingga kental
7. Masukkan secara perlahan kocokan putih telur ke dalam kocokan kuning telur, terigu dan air. Aduk rata.
8. Tuangkan ke loyang chiffon, panggang dalam oven bersuhu 190 hingga 200 derajat celcius selama 40 menit atau hingga matang
9. Angkat, balik tunggu hingga dingin, atau hingga cake keluar sendiri dari cetakan
Potong-potong sesuai selera, sajikan

===============

Sumber : Potongan koran Jawa Pos

Comments No Comments »